manzilbiru

al-Qur'an dan nuansa Warna Biru

Seni Menghafal Al-Qur’an

Bila berbagai umat di belahan timur dan barat merasa bangga dengan tatanan, perundang-undangan dan aturan mereka, maka kita —umat Islam— merasa bangga dengan perundang-undangan dan pedoman hidup yang paling agung yakni Al-Quran.

Kita merasa bangga dengan Al-Quran yang merupakan sumber kemuliaan dan kebanggan kita, pondasi kekuatan kita, sebab-sebab kewibawaan kita, serta faktor kebahagiaan dan kelapangan kita. Kepadanyalah dikembalikan segala bentuk hukum dan pengaduan. Dan, darinyalah datangnya segala bantuan dan syari‘at.

Al-Quran adalah undang-undang kemanusiaan yang mampu memberikan pengaruh pada keimanan seorang muslim, keyakinan dan kebaikannya. Rosululloh n telah bersabda, “Orang yang cerdas adalah yang mawas diri dan beramal untuk kehidupan setelah kematian. Sedangkan orang yang lemah adalah yang memperturutkan hawa nafsunya dan berangan-angan kepada Alloh.”


Hal ini menguatkan pengaruh Al-Quran dalam perbaikan jiwa. Sehingga, ia akan menerangi jalan bagi setiap orang yang memiliki semangat dan keinginan untuk mendapatkan kebaikan. Ada kaitan antara Al-Quran, ilmu yang bermanfaat dan amal sholih. Dari sinilah muncul seruan para ulama untuk memperbanyak bacaan Al-Quran dan pengajarannya untuk diri mereka dan juga bagi anak-anak mereka bilamana mereka menghendaki kesuksesan dan kebahagiaan di dunia dan akhirat.

Ibnu ‘Abbas mengatakan, “Sesungguhnya Alloh telah menjamin bagi orang yang menghafal Al-Quran dan mengamalkannya, ia tidak akan tersesat di dunia dan tidak akan sengsara pula di akhirat. Hal ini berdasarkan firman Alloh Ta’ala, “…Lalu barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, maka ia tidak akan sesat dan tidak pula akan celaka.” (Thoha [20] : 123)

Al-Laits mengatakan, “Tidak ada rahmat yang lebih segera menghampiri seseorang melebihi orang yang mendengar bacaan Al-Quran. Sebagaimana firman Alloh Ta’ala, “Dan apabila dibacakan Al-Quran, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat.” (Al-A‘rof [7]: 204)

Dari Nafi‘ bin ‘Abdul Harits bahwasanya ia pernah bertemu dengan ‘Umar a di daerah ‘Usfan. ‘Umar telah mengangkatnya sebagai gubernur di Mekah. ‘Umar bertanya, “Siapa yang engkau kuasakan pada penduduk Al-Wadi?

Ia menjawab, “Ibnu Abza.”

“Siapakah Ibnu Abza ?” tanya ‘Umar.

Nafi‘ menjawab, “Seorang budak yang telah kami merdekakan.”

‘Umar bertanya keheranan, “Engkau mengangkat seorang mantan budak?”

Nafi‘ berujar, “Ia adalah seorang yang ahli membaca Al-Quran dan pandai tentang ilmu waris.”

Kemudian ‘Umar mengutarakan, “Sesungguhnya Nabi kalian n telah bersabda, ‘Sesungguhnya Alloh mengangkat suatu kaum dengan Al-Quran ini dan merendahkan pula kaum yang lain dengannya.’.”

Orang yang hafal Al-Quran lebih berhak menjadi imam sholat karena ia memiliki sifat-sifat yang baik yang menjadikannya berhak untuk menjadi imam dan lebih utama dari yang lain lantaran keutamaan dan kedudukannya.

Menghafal Al-Quran merupakan sebab terangkatnya derajat di dunia dan akhirat. Orang yang hafal Al-Quran akan bersama para malaikat yang mulia lagi berbakti. Ia akan mendapat naungan Alloh di hari yang tiada naungan kecuali naungan-Nya.

Menghafal Al-Quran merupakan salah satu sebab keistiqomahan seorang muslim dan muslimah dalam sisa-sisa kehidupannya, di mana ia tumbuh dalam menghafalnya sejak ia masih kecil. Juga, merupakan sebab untuk menjaga Al-Quran dan segenap perkara agama.

Bagi yang mencermati dengan bijak terhadap kegiatan-kegiatan sosial yang dimunculkan oleh penduduk negeri yang baik ini (Mekah), maka ia tidak akan melalaikan urgensinya. Yaitu terbentuknya sebuah lembaga sosial yang bergerak di bidang menghafal Al-Quran, berbagai halaqoh tahfizh, termasuk sejumlah sekolah khusus untuk laki-laki dan perempuan yang tersebar di berbagai wilayah negeri ini, laksana buah dari buah-buah kebaikan.

Sekolah yang beraneka ragam ini yang menggabungkan antara potensi pembelajaran yang cerdas dengan menerapkan sebuah metode yang mudah untuk menghafal Al-Quran dan kurikulum pengajaran yang seimbang sesuai dengan kemampuan dan keahlian masing-masing murid. Oleh karenanya, puluhan ribu murid telah ikut bergabung dalam sekolah-sekolah tahfizh, baik yang buta huruf, lemah, tertimpa sakit, atau yang tubuhnya mengalami luka. Namun, mereka tetap berpegang teguh dengan tali Alloh dan menetapi kitab-Nya yang mulia hingga mampu menghafalnya, meski usianya telah mencapai 73 tahun. Ada seorang wanita buta huruf yang pekerjaannya adalah menggembala kambing di padang pasir mampu menghafal Al-Quran secara sempurna. Ada pula yang buta mampu menghafal Al-Quran dan berbicara secara fasih serta memiliki prestasi yang melampaui teman-temannya yang sehat. Atau, seorang yang lanjut usia nan lemah mampu menghafal Al-Quran setelah masa pensiunnya.

Oleh karenanya, urgensi buku ini beserta nilai yang terkandung di dalamnya sangatlah penting. Sebab, di dalamnya memuat puluhan kisah nyata yang sebagiannya seolah-olah tidak masuk akal. Atau, sejumlah kisah aneh dan menakjubkan yang mampu merubah potret perjalanan beberapa keluarga dan rumah tangga.

Buku ini merupakan perjalanan yang mendalam bagi puluhan orang yang dirundung berbagai permasalahan dan rintangan. Namun, mereka mampu menghadapi kondisi itu dan mengatasi masa-masa sulit tersebut. Sehingga, mereka menjadi contoh dan suri tauladan penunjuk jalan di masyarakat.

Meski telah banyak tulisan dan penelitian dalam masalah ini, namun hal tersebut masih terpisah dan berserakan di berbagai buku yang kesemunya hampir serupa. Usaha penulisan ini merupakan pentelaahan yang berkesinambungan yang diikuti dengan pemaparan dan pandangan sosial terhadap contoh-contoh yang baik yang mendarah daging dalam negeri ini. Kami berupaya memberikan berbagai contoh dalam kondisi beragam yang terkait dengan Al-Quran, mencintai dan menghafalnya.

Mengingat pentingnya upaya ini, kekuatannya dan kebutuhan konkrit masyarakat Islam saat ini terhadap tulisan-tulisan semacam ini, maka kami menyuguhkannya dengan metode yang mudah dan sederhana, yang dapat dipahami orang awam maupun orang-orang yang bergelut dengan dunia ilmu, yang buta huruf maupun kalangan terpelajar. Agar dapat menjadi contoh dan tauladan bagi setiap generasi yang sholih yang dapat memberikan kebaikan bagi umat sepanjang zaman di mana pun mereka berada. Sehingga buahnya matang, usahanya berkesinambungan dan hasilnya bisa dirasakan dengan mudah.

 

JUDUL: SENI MENGHAFAL AL-QUR’AN

PENULIS: AHMAD SALIM BADWILAN

HALAMAN: XVI + 250 Hlm.

PENERBIT: WACANA ILMIAH PRESS

HARGA: Rp 32.000,-

alqowamgroup

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: